Senin, 22 Oktober 2012

Nggak harus semuanya kita cari tau
Sesuatu yang seharusnya kita tau
Lambat laun akan kita tau pada waktu yang tepat

Minggu, 21 Oktober 2012

Salahkah Dia ?

Salahkah dia yang lahir dari kondisi keluarga yang berkecukupan ?
Salahkah dia yang menaiki motor atau mobil, sedangkan di luar sana teman-temannya berjalan kaki atau menggoes sepeda bututnya ?
Salahkah dia yang memiliki rumah yang luas dan mewah, sedangkan di luar sana ada ibu bapak yang beralaskan tanah dengan dinding kardus sebagai rumahnya ?
Salahkah dia yang duduk di sebuah cafe sambil menikmati secangkir coklat hangat, sedangkan di luar sana ada anak kecil mengais botol plastik di kotak sampah ?
Salahkah dia yang menjinjing tas belanjaan dari mall, sedangkan di luar sana ada ibu tua yang menggendong tas hasil memulungnya seharian ?
Salahkah dia yang tidur di kasur empuk dengan udara sejuk AC di siang hari, sedangkan di luar sana ada sekelompok orang berjualan koran di siang hari yang panas ?
Salahkah dia ?


Cukup berbeda dengan tulisan saya sebelumnya. Dengan tulisan ini saya hanya ingin melihat suatu keadaan berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Jika sebelumnya saya menggambarkan suatu keadaan yang sederhana, perjuangan hidup seorang anak yang berasal dari keluarga yang pas-pas-an, maka pada tulisan ini saya ingin menggambarkan suatu kehidupan anak yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Walaupun ini hanya opini saya karena saya tidak merasakannya secara langsung.

Tidak ada yang salah dengan seorang anak yang terlahir dari keluarga berkecukupan. Sekali lagi saya tegaskan TIDAK. Namun yang salah jika anak tersebut tidak memanfaatkan fasilitas yang diberikan orang tuanya secara maksimal. Banyak anak yang tumbuh di dalam keluarga yang berlebihan justru membuat mereka menjadi lalai. Daya juang hidupnya rendah. Mereka malas karena apa yang mereka inginkan pasti dapat terpenuhi oleh orang tuanya. Uang yang berlebihan justru mereka gunakan untuk sesuatu yang merusak dirinya seperti narkoba, free sex, dan lain-lain.

Kesombongan. Itulah yang salah dari anak yang terlahir dari keluarga berkecukupan. Banyak diantara mereka yang menyombongkan harta dan kedudukan orang tuanya. Status sosial dan ekonomi menjadi segalanya. Mereka hanya mau berteman dengan anak yang memiliki level yang sama dengan mereka. Level di sini tentu saja berdasarkan status sosial dan ekonomi keluarganya. Itulah yang SALAH.

Tetapi tidak semua anak yang lahir dari keluarga berkecukupan memiliki sifat dan sikap seperti ini. Masih banyak orang tua yang mengajarkan anaknya tentang kehidupan yang sebenarnya. Bagaimana menghargai seseorang tanpa harus melihat status sosial dan ekonomi. Bagaimana berteman dengan siapa pun tanpa menyombongkan diri. Bagaimana bersikap dengan seseorang tanpa memandang rendah karena materi semata. Bagaimana berbagi dengan sesama secara ikhlas. 

Saya salut dengan orang tua yang seperti itu. Pada dasarnya lingkungan keluarga sangat mempengaruhi mental seorang anak. Karena semua di mulai dari lingkungan yang kecil yaitu keluarga. Peran orang tua dalam mengawasi perkembangan anak-anaknya menjadi hal yang utama. Dari tulisan ini, saya hanya ingin mengajak semua orang untuk saling menghargai satu sama lain tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Semoga kelak ketika saya sukses dan memiliki keluarga kecil, saya bisa mendidik anak saya menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan, jauh dari sifat sombong, dan dapat menghargai orang lain tanpa memandang status sosial dan ekonomi.

Tulisan ini terinspirasi saat saya berjalan kaki dari kost (Pogung Kidul) menuju Mirota Kampus. Saya melihat berbagai macam kondisi kehidupan manusia yang ada di sepanjang Jl. Kaliurang. Mulai dari orang yang menaiki mobil, motor, sepeda, atau berjalan kaki seperti saya. Sungguh membuat saya tersentuh dan saat itu juga saya merasa sangat bersyukur dengan kondisi saya sekarang. Masih banyak orang yang jauh tidak beruntung daripada saya. Pesan yang di dapat hari ini "janganlah selalu melihat ke atas. Lihatlah ke atas untuk memotivasimu dan lihatlah ke bawah untuk selalu bersyukur."

21 Oktober 2012
Niera Kost
18:36

Sabtu, 20 Oktober 2012

Harus Sedihkah Saya ?

Kadang saya suka bertanya pada diri sendiri.
Harus sedihkah saya memiliki keluarga dengan kondisi sederhana?
Harus sedihkah saya berjalan kaki atau menaiki bis, sedangkan di luar sana teman-teman saya menaiki motor atau mobilnya?
Harus sedihkah saya memiliki rumah dan kamar yang sederhana, sedangkan di luar sana teman-teman saya memiliki rumah mewah dan bertingkat?
Harus sedihkah saya duduk di warung kecil, sedangkan di luar sana teman-teman saya di sebuah cafe sambil menikmati secangkir cokelat hangat?
Harus sedihkah saya hanya menggendong tas dari sebuah swalayan kecil, sedangkan di luar sana teman-teman saya menenteng tas belanjaan dari sebuah mall besar?
Harus sedihkah saya yang berada di kamar kos yang sempit dengan kipas angis kecil, sedangkan di luar sana teman-teman saya berada di kamar kos yang luas sambil menikmati udara sejuk AC di siang hari?
Harus sedihkah saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul di benak saya. Mengapa Allah SWT tidak menciptakan manusia dengan derajat yang sama? Minimal dengan keadaan sosial yang sama. Mengapa harus ada kata "kaya dan miskin" di dunia ini?

Kadang saya berpikir, apakah saya seorang gadis yang baru berumur 23 pantas untuk duduk bersedih hati merasakan keadaan itu semua? Teman-teman menaiki motor atau mobil ber-AC sedangkan saya berjalan kaki atau menaiki bis. Jujur saya bertanya-tanya pada diri sendiri.

Tapi apakah benar dengan bersedih hati semuanya selesai? Apakah dengan bersedih hati semua keadaan menjadi terbalik dan sesuai keinginan saya? Apakah hanya melihat dan merendahkan diri sendiri semua akan menyenangkan?

Well, Alhamdulillah saya sudah semakin dewasa. Saya tidak pernah merasa bersedih hati atau iri dengan semua yang ada pada diri dan keluarga saya. Saya bersyukur Allah SWT memberikan saya kecerdasan yang bisa saya manfaatkan untuk memperoleh itu semua. Allah SWT memberikan saya banyak kesempatan yang tidak diperoleh anak-anak yang punya fasilitas mewah itu. Allah SWT memberikan saya inner beauty sehingga semua orang sangat menghargai saya tanpa memandang status sosial dan ekonomi. Saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung di dunia ini. Saya percaya, Allah SWT memberikan ujian dan tempaan hidup karena Dia menganggap saya spesial di mata-Nya.

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Itu yang menjadi mindset dalam hidup saya. Tidak perlu merasa putus asa, miner, apalagi iri dengan keadaan yang terbatas. Jika ingin berusaha dan berdoa, pasti ada jalan. Kesuksesan yang diperoleh dari keprihatinan akan menorehkan cerita hidup sepanjang masa. Lebih berwarna. Orang sukses yang berangkat dari keprihatinan biasanya memiliki toleransi yang tinggi, memiliki sifat perasa yang jauh lebih peka. Mengapa? Karena mereka pernah berada di posisi seperti itu.

Kadang saya berpikir, semua yang saya punya ini adalah rezeki dari Allah. Mereka yang hidup berlebihan atau berkekurangan pun pasti memiliki rejekinya masing-masing. Tapi kenapa harus ada istilah kaya dan miskin di dunia ini? Kenapa harus ada istilah atas dan bawah di dunia ini? Bukannya semua manusia itu sama di mata Allah SWT? Kalau begitu, kenapa manusia harus diciptakan dalam kondisi hidup yang berbeda?


21 Oktober 2012
Niera Kost
05:00

Jumat, 19 Oktober 2012

"Tidak perlu menyalahkan orang lain. Suatu reaksi terjadi karena ada aksi sebelumnya".

Rabu, 17 Oktober 2012

Yudisium dan Segala Ceritanya

Lelah. Itulah gambaran keadaan saya hari ini. Betapa ribetnya mengurus Yudisium untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik. "Masuknya susah, keluarnya juga susah". Kalimat tersebut benar adanya. Banyak masyarakat yang bilang, jika ingin jadi mahasiswa UGM itu masuknya susah, nanti untuk keluarnya juga susah. Dan sekarang ini saya merasakannya secara langsung. Setelah sidang, evaluasi untuk perbaikan skripsi menumpuk. Ditambah lagi urusan administrasi yudisium. Jika dilihat ada 17 poin yang harus dipenuhi. Tapi dari ke-17 poin tersebut, tanda tangan lah yang paling sukar.

Dosen di Teknik Geologi UGM bukanlah dosen yang menetap ada setiap saat di kampus. Tapi dosen kami semuanya adalah orang yang mobile. Susahnya minta ampun untuk ditemui. Alhasil dari pagi jam 9 sampe jam 4 sore tadi saya dan sahabat saya, menyelesaikan urusan untuk yudisium. Lika-liku ceritanya sangat panjang, mulai dari membuat naskah publikasi kemudian harus di-burn dalam sebuah CD. Formatnya harus sesuai dengan ketentuan. Dan yang membuat kami tambah sulit adalah tingkat keprofesionalitas dari karyawan di Teknik Geologi bisa diacungkan jempol. Saking baiknya kinerja mereka, sehingga kami semakin sulit untuk "kongkalikong". Dalam artian, jika ada format yang salah sedikit, mereka tidak mau menerimanya. Alhasil tadi saya bolak-balik kampus - imagi- kampus - imagi. Luar biasa sekali hari ini. 

Bukan hanya energi yang terkuras, uang pun terkuras banyak. Ya Allah, pengeluaran bulan ini Subhanallah banget. Bener-bener deh, ngelus dada. Mau minta orang tua tidak enak hati. Alhasil puter otak biar semuanya cukup untuk yang namanya WISUDA. Ada rejeki honor asisten bukan untuk belanja baju, sepatu, atau tas, tapi buat bayar wisuda. Mungkin untuk beberapa mahasiswa, hal tersebut bukanlah menjadi beban. Tinggal minta orang tua mereka, pasti langsung di-transfer. Tapi tidak untuk saya. Dalam sebulan saya dikasih uang saku pada tanggal muda. Sampai berganti bulan, saya tidak pernah minta. Dan sekarang untuk mengurus yudisium bukan hanya mengorbankan tenaga, pikiran, tetapi juga uang. 

Terkadang kesel sama diri sendiri. Sudah Sarjana Teknik masih saja minta uang ke orang tua. Malu. Belum bisa menghasilkan. Setiap awal bulan dikirim uang. Terus kapan bisa menghasilkan. Kapan bisa membalas dengan men-transfer untuk kebutuhan orang tua setiap bulan. Tapi saya yakin, rejeki itu selalu ada dari-Nya. Lewat mana saja, melalui perantara apapun. 

17 Oktober 2012
20:14


I Won't Give Up


I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up


Selasa, 16 Oktober 2012

Boys or man, girls or woman

Kata salah satu teman, "cantik bukan hanya fisik, bukan hanya modis, bukan hanya bermobil. Cewek yang cerdas, cewek yang sabar, cewek yang perhatian, cewek yang punya pemikiran, itu jauh lebih cantik". 
Begitulah sedikit obrolan saya beberapa waktu yang lalu. Pada saat itu saya menanyakan padanya, bagaimana first impression seorang laki-laki terhadap wanita. Ketika itu saya menunjukkan kepadanya sosok perempuan yang lewat dihadapan kami. 

Saya : Kalo cowok gimana sih lihat cewek itu? Untuk first impression-nya?

Teman : Beda-bedalah, tergantung cara berpikir cowok itu.

Saya : Ya, maksudku pada umumnya aja. Nih, coba deh lihat cewek itu (perempuan yang lewat dihadapan kami). Cewek itu modis kan, terus cantik, bermobil juga. Bandingin sama cewek yang cerdas, ga bermobil, sederhana. Kamu milih yang mana ?

Teman : Ya pilih yang cerdas, ga bermobil, dan sederhana. 

Saya : Ah, kamu muna deh. Bukannya kalo cowok tuh bangga ya kalo ceweknya tajir, pokoknya oke lah.

Teman : Loh, kamu mau pacaran sama ceweknya apa bapaknya. Ran, kebanyakan mereka butuh pengakuan. Tergantung cara pandang si cowok itu. Dia "boys or man".

Saya : Hah? Maksudnya ? 

Teman : Iya, kalo dia laki-laki ya mungkin dia bakal lebih tertarik dengan semua hal yang berhubungan dengan fisik dan materi. Tapi kalo dia itu pria, dia pasti milih cewek yang mengerti dia, inner beauty. Ran, hubungan yang serius bukan lagi mempermasalahkan masalah kecantikan atau kegantengan, kekayaan atau kemiskinan seseorang. Jauh dari itu semua, ada hal yang lebih penting yaitu sifat dan sikap pasangan. Rasa tanggung jawab, komitmen semuanya menjadi penting. Kenapa orang bisa bertahun-tahun pacaran, padahal kalo dipikir pasti bosen kan. Ketemunya orang itu lagi, sifatnya kayak gitu lagi, tapi itulah bedanya pria. Mereka punya komitmen. Karena komitmen itulah mereka bertahan. Tapi berbeda kalo dia itu laki-laki. Mereka masih ingin main-main dengan hubungan yang dijalani. Jadi ga aneh kalo kamu lihat orang yang gonta-ganti pasangan. Kebanyakan laki-laki memang punya sifat penasaran. Tapi semua itu tergantung cara masing-masing orang menyikapinya. Kalo cowok itu sudah nyaman dengan seorang cewek, pasti ujung-ujungnya dia kembali sama ceweknya itu. Ada cara Tuhan mengingatkannya. Misalnya nih cewek itu lebih sabar, lebih ngerti, atau lebih perhatian. Intinya lebih ke inner beauty-nya.

Saya : Iya, bener. Aku sependapat. Tapi ga hanya cowok loh yang kayak gitu. Cewek juga banyak yang kayak gitu. Kayaknya pengalaman kamu banget ya hahaha. Sori broo. Menurutku cowok atau cewek bisa ngelakuin itu semua. Memang beda antara "girls and woman". Kadang aku risih aja sama cewek yang bangga ketika dia bisa melakukan hal kayak gitu. Kesana-kesini, ga jelas, ga punya pendirian. Entah bangga atau gimana, bingung aja sama cara berpikirnya. 

Teman : Lah, kalo kamu target kapan, Ran?

Saya : Target apa ini? Ga usah ditarget aja lah. Daripada sudah punya target tapi akhirnya meleset. hahaha. Entah, tapi aku sekarang lebih pasrah aja. Kan jodoh, maut, rejeki, ada yang atur.

Teman : Hahaha tapi kalo kayak gitu artinya kamu ga punya planning. Rencana itu penting buat orang hidup. Jadi hidupnya punya arah.

Saya : Aku sih selesai S2 ini pengen kerja dulu. Tapi ga tau kenapa aku jadi galau. Galau, kenapa dulu ga ambil S3 aja sekalian. Jadi nyesel banget. Padahal udah ada kesempatan. 

Teman : Yaudah jalanin aja apa yang ada. Ga ada yang sia-sia. Abis lulus S2, kerja sebentar, terus nikah lah, Ran. Hahaha

Saya : Iyalah, mau nikah aku juga. Emang kamu pikir aku cewek yang mikir karier doang apa. Aseeeem. Let it flow aja lah, berat kalo mikir ke sana mah. Yang ada aja dijalani. Ini aja aku lagi buat proposal tesis udah pusing. Hahaha. Apalagi mikir nikah. Aku ga kebelet nikah kok. Santai broo.. Kamu lah sana yang cari pasangan. Move on dong !

Teman : Ini udah move on. Tapi kan ga berarti asal milih pasangan. Masa seumuran kita masih mau maen-maen. Udah tua ini, Ran. Pengennya yang bisa diajak serius. Bukan pacaran anak ABG lagi.

Begitulah sedikit potongan obrolan saya dengan temanku. Cukup memberikan pandangan tentang cara berpikir seorang laki-laki. Pada intinya semua tergantung pada individu masing-masing. Hal seperti ini sangatlah tidak adil untuk di-general-kan. Ada laki-laki atau perempuan yang menilai seseorang berdasarkan fisik dan materi. Tetapi ada juga yang menilai dari kecantikan sikap dan sifatnya. Semuanya tergantung pilihan anda.

16 Oktober 2012
20:36